Convert DVD ke VCD
Ide dan perlengkapan
Ingin mengkoleksi Film lama tapi hanya ada versi DVD
VCD player ada, DVD enga
Perangkat yang dibutuhkan (usahakan pinjam, jangan beli rugi) :
Computer super cepat, usahakan diatas 2GHz untuk kecepatan CPU.
CD-Writer plus CD blank
Software burning untuk VCD
DVD-ROM
DVDx software
Pemakaian software DVDx
Tahapan pertama, temukan file DVDx dan jalankan di computer super cepat (Gambar atas).
Karena bentuk DVD film terdiri dari beberapa bagian misalnya terdapat film intro, maka pertama kali yang dilakukan adalah memilih file DVD yang akan dikonversi.
Untuk mengenal film utama sangat mudah, pada icon program DVDx pilih "Open DVD root" dan pilih file root yang memiliki durasi terpanjang.
Setelah dipilih film yang akan dikonversi selanjutnya menentukan bentuk input dari DVD.
Proses selanjutnya cari icon Input
Pada gambar dibawah ini adalah setting input yag telah digunakan untuk merubah file DVD ke VCD dan berhasil dengan baik. Anda dapat merubah efek suara serta setting bentuk mutu gambar bila menginginkan. Pada setting "Save your DVD drive" adalah alokasi file yang akan diambil untuk mempercepat pengerjaan dari software. Bisa dipilih mengcopy ke RAM bila anda memiliki computer dengan RAM besar.
Proses selanjutnya cari icon output
Pada gambar dibawah ini adalah setting input, DVDx juga memiliki konversi file untuk SVCD serta AVI. Pilih format Video CD untuk konversi ke VCD format.
Jangan merubah resolusi, dan usahakan mengunakan 352X288 kecuali anda mengetahui standard format PAL atau NTSC pada VCD. Karena DVD memiliki ukuran layar yang dibagi atas Full screen atau Wide screen, untuk menyesuaikan tampilan pada monitor anda dapat merubah pada bagian Zoom. Jangan lupa mengclick "Whole" icon untuk mereset panjang frame dari Film DVD, karena bila terlupa, file DVD yang akan dikonversi hanya menghasilkan panjang sesuai pada data terakhir digunakan.
Jangan lupa menentukan panjang file VCD yang akan dihasilkan dari software, dan sesuaikan dengan media CD blank yang anda gunakan (gambar bawah).
Proses selanjutnya mengclick Encode dan nikmati lamanya mengkonversi DVD ke VCD. Dengan P4 2.53GHz, konversi film dengan durasi 1.5 jam membutuhkan waktu antara 2-3 jam dan lamanya proses tergantung dari pilihan serta kualitas gambar yang akan dihasilkan oleh software DVDx. Jangan lupa merubah Priority proses dari software ke High atau real time untuk memberikan kesempatan pada software DVDx mengambil resource processing secara penuh.
Jangan lupa untuk memberikan nama file yang dihasilkan dari software dengan mengclick "Select Output" dan berikan nama sesuai nama film.
Proses akhir, file VCD dengan bentuk MPG siap digunakan untuk membuat VCD. Gunakan Nero software burning untuk membuat VCD. Dan bila terjadi kesalahan pada proses konversi, kemungkinan Nero software akan melakukan encoding ulang.Result
Apakah hasilnya akan sama dengan DVD asli, masih jauh, karena VCD memiliki ukuran gambar yang lebih kecil. Tetapi hasil dipastikan memiliki kualitas gambar yang lebih bersih (dari VCD bajakan).
Software dapat di cari di search engine dengan code "dvdx"
http://www2.labdv.com/dvdx
Rabu, 30 Maret 2011
Rabu, 02 Maret 2011
Energi yang tak pernah habis
Tak ada iman tanpa ujian. Kalimat itulah yang mesti dipegang seorang mukmin dalam mengarungi hidup. Susah senang adalah di antara ruang-ruang kehidupan di mana seorang mukmin diuji keimanannya. Ada yang lulus. Ada juga yang mesti mengulang.
Mereka yang berguguran dalam perjuangan Islam adalah di antara yang mesti mengulang. Waktu memberikan mereka peluang untuk bangkit di lain kesempatan.
Rasulullah saw. bersabda, “Allah menguji hamba-Nya dengan menimpakan musibah sebagaimana seorang menguji kemurnian emas dengan api (pembakaran). Ada yang keluar emas murni. Itulah yang dilindungi Allah dari keragu-raguan. Ada juga yang kurang dari itu (mutunya) dan itulah yang selalu ragu. Ada yang keluar seperti emas hitam dan itu yang memang ditimpa fitnah (musibah).” (HR. Athabrani)
Ujian perjalanan keimanan seseorang tidak selalu pada hal besar. Bisa jadi terselip dalam kehidupan sehari-hari. Ada ujian tubuh yang rentan sakit. Ada rezeki yang muncul dalam tetesan kecil. Kadang ada, tapi kebanyakan tidak ada. Hidup menjadi sangat susah.
Inilah ujian sehari-hari yang bisa menentukan seperti apa mutu seorang mukmin. Kalau hasil ujian menunjuk titik sabar, rezeki yang sedikit menjadi berkah. Sedikit, tapi punya mutu istimewa.
Seperti itulah yang pernah diungkapkan Rasulullah saw. pada beberapa sahabat. “Sesungguhnya Allah Azza Wajalla menguji hambanya dengan rezeki yang diberikan Allah kepadanya. Kalau dia ridha dengan bagian yang diterimanya, maka Allah akan memberkahinya dan meluaskan pemberian-Nya. Kalau dia tidak ridha dengan pemberian-Nya, maka Allah tidak akan memberinya berkah.” (HR. Ahmad)
Ujian seperti itu memang terkesan sederhana. Mudah. Tapi, akan beda pada dunia nyata. Rezeki yang terasa kurang akan berdampak pada sisi lain: gizi keluarga, pendidikan anak, mobilitas gerak, dana dakwah, dan sebagainya. Belum lagi soal status sosial di tengah masyarakat. Sulit mengajak orang kembali pada Islam kalau status sosial si pengajak kurang dianggap.
Ujian rezeki yang terkesan sederhana, ternyata memang berat. Kalau saja bukan karena kasih sayang Allah swt., seorang mukmin hanya akan berputar-putar pada masalah diri dan keluarganya. Kapan ia akan berjuang. Bagaimana ia berdaya mengangkat beban umat yang begitu berat: masalah kebodohan, perpecahan, bahkan kemiskinan umat.
Jika merujuk pada pengalaman Rasul dan para sahabat, kenyataan hidup memang tidak begitu beda. Sedikit di antara hamba-hamba Allah di masa itu yang kaya. Termasuk Rasul sendiri. Beliau dikenal yatim yang berbisnis pada usaha pamannya, Abu Thalib. Begitu pun para sahabat yang sebagian besar berstatus budak dan buruh. Apa yang bisa dilakukan pada kelompok seperti itu.
Itulah yang pernah dialami Nabi Nuh dan para aktivis di sekitarnya. Mereka dianggap hina karena status sosial yang rendah. Allah swt. menggambarkan keadaan itu dalam surah Hud ayat 27. “Maka berkatalah pemimpin-pemimpin yang kafir dari kaumnya, ‘Kami tidak melihat kamu, melainkan (sebagai) seorang manusia (biasa) seperti kami, dan kami tidak melihat orang-orang yang mengikutimu, melainkan orang-orang yang hina dina di antara kami yang lekas percaya saja. Dan kami tidak melihat kamu memiliki sesuatu kelebihan apa pun atas kami. Bahkan, kami yakin bahwa kamu adalah orang-orang yang dusta.”
Namun, sejarah memberikan pelajaran berharga. Para pejuang teladan yang dianggap punya status sosial rendah itu mampu memberikan bukti. Bahwa, kekayaan bukan penentu sukses-tidaknya sebuah perjuangan. Ada hal lain yang jauh lebih penting sebagai energi utama. Energi utama itu tersimpan dalam kekuatan ruhiyah yang tinggi.
Rasulullah saw. mengungkapkan itu dalam sebuah sabdanya. “Seorang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih disukai Allah daripada seorang mukmin yang lemah dalam segala kebaikan. Peliharalah apa-apa yang menguntungkan kamu dan mohonlan pertolongan Allah. Jangan lemah semangat (putus asa). Jika ditimpa suatu musibah janganlah berkata, ‘Oh andaikata aku tadinya melakukan itu tentu berakibat begini dan begitu.’ Tetapi, katakanlah, ‘Ini takdir Allah dan apa yang dikehendaki Allah pasti dikerjakan-Nya.” Ketahuilah, sesungguhnya ucapan ‘andaikan’ dan ‘jikalau’ hanya membuka peluang bagi karya setan.” (HR. Muslim)
Kenyataannya, energi yang dimiliki para pejuang Islam dari masa ke masa ada dalam ruhani mereka. Mereka begitu dekat dengan Yang Maha Kuat, Allah swt. Siang mereka seperti pendekar yang menggempur musuh dengan gagah berani. Tapi malam, mereka kerap menangis dalam hamparan sajadah karena hanyut dalam zikrullah. Hati mereka begitu terpaut dalam kasih sayang Allah swt.
Suatu kali Rasulullah saw. meminta Ibnu Mas’ud membaca Alquran. Ibnu Mas’ud agak kaget. “Bagaimana mungkin saya membacakan pada Anda Alquran, padahal ia datang melalui Anda?” Rasulullah saw. pun meminta Ibnu Mas’ud untuk membaca. Dan sahabat Rasul itu pun membaca surah An-Nisa.
Satu demi satu ayat dalam surah An-Nisa itu dibaca Ibnu Mas’ud. Hingga pada ayat ke-41. Rasul pun menangis. Tangisnya begitu jelas, hingga Ibnu Mas’ud menghentikan bacaannya. Ayat ke-41 itu berbunyi, “Maka bagaimanakah apabila Kami mendatangkan seorang saksi (Rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu).”
Itulah energi yang begitu kuat. Sebuah kekuatan yang bisa memupus keraguan, kemalasan, dan rasa takut. Sebuah kekuatan yang bisa mengecilkan bentuk ujian hidup apa pun. Termasuk, ujian kemiskinan.
Sumber : http://www.dakwatuna.com/2008/energi-yang-tak-pernah-habis/
Kenapa Mata 'Takut' dengan Bawang?
Bawang adalah salah satu bumbu dapur yang banyak digunakan dalam masakan. Tapi jika seseorang ingin menggunakannya ia harus siap-siap untuk menangis.
Selain untuk bumbu masakan, bawang juga diyakini mengandung bahan kimia yang berfungsi sebagai anti kolesterol, anti inflamasi (peradangan), antioksidan dan juga bisa membantu mengatasi tekanan darah.
Kenapa mengiris atau mengupas bawang bikin orang menangis?
Ketika seseorang memotong atau mengupas bawang maka ia memecahkan sel-sel di bawang yang menggabungkan tiap lapisan. Satu membran bawang mengandung enzim sedangkan yang lainnya mengandung senyawa sulfur.
Ketika bawang diiris atau di kupas maka terjadi reaksi kimia antara enzim dan juga senyawa sulfur yang menghasilkan gas volatil (mudah menguap). Gas ini akan bereaksi dengan udara sekitar menjadi sulphuric acid.
Karena ujung saraf dari mata ini sangat sensitif, maka saat terkena gas tersebut mata menjadi teriritasi dan merangsang keluarnya air mata untuk melindungi mata. Karena itu tak heran jika semakin banyak bawang yang dipotong, air mata yang keluar akan semakin banyak pula.
Namun jika bawang tersebut sudah masuk ke dalam wajan atau penggorengan maka seseorang tidak akan menangis atau air matanya berhenti.
"Hal ini karena selama proses memasak, enzim yang menghasilkan gas-gas ini akan menjadi hancur atau tidak aktif lagi sehingga tidak membuat mata menjadi iritasi," ujar Dr Gerry Russell, profesor food biochemistry dari University of California, seperti dikutip dari Health.Ninemsn, Rabu (2/3/2011).
Untuk mengurangi iritasi sehingga tak banyak air mata yang keluar saat berhadapan dengan bawang, ada beberapa cara yang bisa dilakukan yaitu:
- Menjaga jarak mata dengan bawang, semakin jauh jaraknya maka gas yang mengiritasi mata akan semakin sedikit.
- Menjaga bawang tetap dingin, hal ini karena dengan mendinginkan bawang bisa mengurangi gas yang keluar akibat enzim yang tidak aktif.
- Menggunakan kacamata, dengan kacamata akan membuat mata terlindungi sehingga mengurangi iritasi.
- Mengunyah permen karet, mengunyah akan membuat seseorang bernapas lewat mulut sehingga mengurangi paparan gas ke mata.
- Usahakan untuk tidak mengucek mata karena akan membuat mata semakin teriritasi dan memicu lebih banyak air mata yang keluar.
(ver/ir)
Langganan:
Postingan (Atom)
